salam a'laik...
Monday, May 16, 2011
SALAM IMTIHAN
salam a'laik...
Wednesday, January 12, 2011
Friday, January 7, 2011
Cerita Teladan (Dipetik dari sumber buku Solusi Isu no.27,m/s108)

Semua Ada Dalam Al-Quran
“Semua ilmu ada dalam Al-Quran,”kata seorang ulama.
“Maksud tuan ilmu dunia juga?” balas seorang pemuda.
“Ya ilmu dunia dan akhirat.”
“Saya tidak percaya. Masakan begitu? Bagi saya mustahil kitab Al-Quran yang hanya terdiri daripada ribuan ayat itu boleh mengisi semua bentuk ilmu.”
“Berapa ayat yang diperlukan untuk memuatkan semua ilmu yang ada?”
“Wah tentulah berbilion-bilion banyaknya. Bentuk dan jenis ilmu tersangat luas.”
“Saya masih berpendapat semua asas ilmu ada dalam Al-Quran.”
“Saya tetap tidak bersetuju,”tegas si pemuda.
Ulama hanya tersenyum.Tidak puas hati,keesokan harinya, pemuda itu bertemu dengan ulama itu semula.
“Tuan masih percaya semua ilmu ada dalam Al-Quran?”
“Ya,”jawab ulama itu pasti.
“Kalau begitu,berapa banyak minyak yang boleh didapati daripada sekilogram buah kelapa sawit?”
Ulama itu diam. Pemuda itu rasa bangga kerana pada pengamatannya ulama itu akan tunduk kepada pandangannya.
“Dan jangan lupa tunjukkan nama surah dan ayatnya sekali ya..”tambah pemuda itu.
Beberapa ketika kemudian,ulama itu berkata, Ya saya tahu jawapannya. Malah saya tahu surah serta ayat yang menjawab persoalan itu. Tetapi untuk menjawabnya,mari ikut saya.”
Pemuda itu mengikut ulama tersebut menuju ke suatu tempat. “Kita nak ke mana?”
“Ikut sahajalah.”
Tidak lama kemudian mereka bertemu dengan seorang pekerja yang sedang menyelia kerja-kerja memproses buah kelapa sawit. Ulama itu bertanya,
“Tuan,boleh beritahu kami berapa banyak minyak yang kita akan dapat daripada sekilogram buah kelapa sawit?”
Penyelia itu spontan member jawapannya. Sejurus kemudian,ulama berkata kepada si pemuda, “Itulah jawapannya.”
“Eh,saya mahukan jawapan dari Al-Quran, bukan penyelia ini!” bantah pemuda itu agak marah.
“Itulah jawapan Al-Quran. Dalam Surah Al-Nahl ayat 43,Allah telah berfirman yang bermaksud, ‘Bertanyalah kepada orang yang mengetahui jika kamu tidak mengetahui.’ Dan kita telah pun bertanya kepada penyelia kilang kelapa sawi ini tentang soalan kamu. Inilah yang dijelaskan kaedahnya oleh Al-Quran. Dan inilah jawapan Al-Quran kepada soalan kamu itu.”
Rujuklah pada Al-Quran dan Sunnah,pasti kita takkan sesat.
mari bersantai sekejap..^_^

Wahai bakal isteri-isteri solehah

Wahai bakal-bakal isteri yang solehah,
Beri hatimu hanya untuk Allah,pasti Allah temukan padamu Pemilik terbaik
Hamparkan masamu seluasnya hanya untuk Allah
Pasti Allah aturkan kehidupanmu dengan baik
...salam mujahadah wahai sahabat-sahabat sekalian..^_^...artikel di bawah ini ana copy dr facebook..semoga ia sama2
dapat memberi manfaaat kpd kita.Jika ada kekhilafan,harap dapat menegur dan berkongsi ilmu...^_~
Muslimah Cantik, Bermahkota Rasa Malu
by Ummu Kultsum on Monday, September 27, 2010 at 9:08am
“Muslimah cantik, menjadikan malu sebagai mahkota kemuliaannya…” (SMS dari seorang sahabat)
Membaca SMS di atas, mungkin pada sebagian orang menganggap biasa saja, sekedar sebait kalimat puitis. Namun ketika kita mau untuk merenunginya, sungguh terdapat makna yang begitu dalam. Ketika kita menyadari fitrah kita tercipta sebagai wanita, mahkluk terindah di dunia ini, kemudian Allah mengkaruniakan hidayah pada kita, maka inilah hal yang paling indah dalam hidup wanita. Namun sayang, banyak sebagian dari kita—kaum wanita—yang tidak menyadari betapa berharganya dirinya. Sehingga banyak dari kaum wanita merendahkan dirinya dengan menanggalkan rasa malu, sementara Allah telah menjadikan rasa malu sebagai mahkota kemuliaannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاء
“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain,
الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَر
“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”(HR. Al Hakim dalam Mustadroknya 1/73. Al Hakim mengatakan sesuai syarat Bukhari Muslim, begitu pula Adz Dzahabi)
Begitu jelas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memberikan teladan pada kita, bahwasanya rasa malu adalah identitas akhlaq Islam. Bahkan rasa malu tak terlepas dari iman dan sebaliknya. Terkhusus bagi seorang muslimah, rasa malu adalah mahkota kemuliaan bagi dirinya. Rasa malu yang ada pada dirinya adalah hal yang membuat dirinya terhormat dan dimuliakan.
Namun sayang, di zaman ini rasa malu pada wanita telah pudar, sehingga hakikat penciptaan wanita—yang seharusnya—menjadi perhiasan dunia dengan keshalihahannya, menjadi tak lagi bermakna. Di zaman ini wanita hanya dijadikan objek kesenangan nafsu. Hal seperti ini karena perilaku wanita itu sendiri yang seringkali berbangga diri dengan mengatasnamakan emansipasi, mereka meninggalkan rasa malu untuk bersaing dengan kaum pria.
Allah telah menetapkan fitrah wanita dan pria dengan perbedaan yang sangat signifikan. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga dalam akal dan tingkah laku. Bahkan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 228 yang artinya; ‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang sepatutnya’, Allah telah menetapkan hak bagi wanita sebagaimana mestinya. Tidak sekedar kewajiban yang dibebankan, namun hak wanita pun Allah sangat memperhatikan dengan menyesuaikan fitrah wanita itu sendiri. Sehingga ketika para wanita menyadari fitrahnya, maka dia akan paham bahwasanya rasa malu pun itu menjadi hak baginya. Setiap wanita, terlebih seorang muslimah, berhak menyandang rasa malu sebagai mahkota kemuliaannya.
Sayangnya, hanya sedikit wanita yang menyadari hal ini…
Di zaman ini justeru banyak wanita yang memilih mendapatkan mahkota ‘kehormatan’ dari ajang kontes-kontes yang mengekspos kecantikan para wanita. Tidak hanya sebatas kecantikan wajah, tapi juga kecantikan tubuh diobral demi sebuah mahkota ‘kehormatan’ yang terbuat dari emas permata. Para wanita berlomba-lomba mengikuti audisi putri-putri kecantikan, dari tingkat lokal sampai tingkat internasional. Hanya demi sebuah mahkota dari emas permata dan gelar ‘Miss Universe’ atau sejenisnya, mereka rela menelanjangi dirinya sekaligus menanggalkan rasa malu sebagai sebaik-baik mahkota di dirinya. Naudzubillah min dzaliik…
Apakah mereka tidak menyadari, kelak di hari tuanya ketika kecantikan fisik sudah memudar, atau bahkan ketika jasad telah menyatu dengan tanah, apakah yang bisa dibanggakan dari kecantikan itu? Ketika telah berada di alam kubur dan bertemu dengan malaikat yang akan bertanya tentang amal ibadah kita selama di dunia dengan penuh rasa malu karena telah menanggalkan mahkota kemuliaan yang hakiki semasa di dunia.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128) Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang adalah wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/191)
Dalam sebuah kisah, ‘Aisyah radhiyyallahu ‘anha pernah didatangi wanita-wanita dari Bani Tamim dengan pakaian tipis, kemudian beliau berkata,
إن كنتن مؤمنات فليس هذا بلباس المؤمنات وإن كنتن غير مؤمنات فتمتعينه
“Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.” (disebutkan dalam Ghoyatul Marom (198). Syaikh Al Albani mengatakan, “Aku belum meneliti ulang sanadnya”)
Betapa pun Allah ketika menetapkan hijab yang sempurna bagi kaum wanita, itu adalah sebuah penjagaan tersendiri dari Allah kepada kita—kaum wanita—terhadap mahkota yang ada pada diri kita. Namun kenapa ketika Allah sendiri telah memberikan perlindungan kepada kita, justeru kita sendiri yang berlepas diri dari penjagaan itu sehingga mahkota kemuliaan kita pun hilang di telan zaman?
فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman: 13)
Wahai, muslimah…
Peliharalah rasa malu itu pada diri kita, sebagai sebaik-baik perhiasan kita sebagai wanita yang mulia dan dimuliakan. Sungguh, rasa malu itu lebih berharga jika kau bandingkan dengan mahkota yang terbuat dari emas permata, namun untuk mendapatkan (mahkota emas permata itu), kau harus menelanjangi dirimu di depan public.
Wahai saudariku muslimah…
Kembalilah ke jalan Rabb-mu dengan sepenuh kemuliaan, dengan rasa malu dikarenakan keimananmu pada Rabb-mu…
Jogja, Jumadil Ula 1431 H Penulis: Ummu Hasan ‘Abdillah Muroja’ah: Ust. Muhammad Abduh Tuasikal
Referensi: Yaa Binti; Ali Ath-Thanthawi Al Hijab; I’dad Darul Qasim
dr:facebook seorang muslimah
***
Artikel muslimah.or.id
Petikan dari buku Quran Saintifik (Meneroka Kecemerlangan Quran Daripada Teropong Sains),pengarangnya ialah Dr.Danial Zainal Abidin
Bab 64,m/s 184,Daripada Mata Datanglah Buta
Baru-baru ini pakar-pakar psikologi dari Amerika mendapati mereka yang suka melihat gambar-gambar lucah ataupun yang berunsurkan seks boleh menjadi buta. Penemuan ini adalah berdasarkan kajian yang dilakukan oleh David Zald dari Universiti Vanderbilt di Nashville, Tennessee dan Marvin Chun serta rakan-rakannya dari Universiti Yale di Connecticut. Hal ini mungkin disebabkan proses sekatan maklumat yang berlaku dalam otak kesan daripada pengaruh emosi yang berpunca daripada imej erotic atau lucah yang dilihat. Keadaan buta ini berlaku hanya seketika,iaitu beberapa saat,namun ia dapat menyebabkan kemalangan jalan raya sekiranya ia berlaku ke atas pemandu yang terkesan dengan papan-papan iklan yang mengandungi gambar-gambar lucah di tepi jalan . Perkara ini dilaporkan di NewScientist.com News Service bertarikh 12 ogos 2005, di bawah tajuk Erotic Images Can Turn You Blind.
Dalam Islam seluruh pancaindera termasuk mata adalah amanah justeru ia tidak dapat digunakan bagi melihat benda-benda yang haram. Dalam surah an-Nur ayat 30 hingga 31, Allah menyatakan, “Katakanlah kepada lelaki mukmin yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram) serta memelihara kehormatan mereka. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka dan sesungguhnya Allah Maha mendalam pengetahuannya berkenaan apa yang mereka kerjakan. Dan katakana kepada wanita-wanita yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram) serta memelihara kehormatan mereka . Dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecauli yang zahir daripadanya sahaja dan mereka perlu menutup belahan baju mereka di kawasan leher dengan tudung kepala mereka.”
Sekiranya seseorang lelaki, sebaga contoh, melihat seorang wanita dari jauh dengan pandangan syahwat, dia dihukum berdosa walaupun pada masa itu duduk berjauhan daripadanya. Berhubung dengan ini, sahabat Nabi Muhammad S.A.W. yang bernama Jarir bin Abdullah berkata, “ Saya pernah bertanya kepada Nabi Muhammad S.A.W. berkenaan melihat wanita yang tidak disengajakan, maka Nabi Muhammad S.A.W. berkata, ‘Palingkan pandanganmu’.” Hadis ini direkodkan oleh Muslim.
Nabi Muhammad S.A.W. juga pernah berkata kepada Ali, “Wahai Ali, jangan engkau susuli satu pandangan (kepada wanita) dengan satu pandangan yang lain kerana yang pertama itu tidak menjadi kesalahan (kerana ia tidak disengajakan),tetapi tidak yang kedua.” Hadis ini direkodkan oleh Abu Daud.



